Featured

Pada mulanya kudengar Suara: Indonesia!

Rona senja menghantarkan jiwa ke sebuah perhentian.

Ketika wajah didera lelah seharian bermandikan cahaya.

Ketika mata tak sanggup lagi menatap surya sang dunia

Saat senja, di kala itu, pada mulanya kudengar Suara.

Dan di saat itu pula dimulailah Kehidupan.

Dari manakah Suara itu berasal?

Di ujung senja terdapat Kegelapan.

Inikah ruang Kematian?

Gelap, ketika mata terpejam?

Pertama kali kudengar Suara itu..

Ya, pada saat lonceng senja berbunyi..

Kemudian datanglah selimut Kegelapan..

Seakan jiwa menghampiri Kematian..

Namun ternyata yang kutemukan Kehidupan.

Terima kasih Kegelapan, engkau yang memberiku cahaya..

Cahaya Kehidupan, yang memperdengarkan Suara Kebenaran.

Walau surya sang dunia menerangi jiwaku seharian,

namun dalam Kegelapan kutemukan Penerang Yang Abadi.

Ketika tubuhku terbaring, mata terpejam, setiap malam..

Engkaulah Suara yang selalu kunanti,

penunjuk jalan para Jiwa Yang Mencari

Ketika mata dan kehendak tak habisnya meletupkan ambisi

Engkaulah Suara yang menenangkan,

bagai Air yang memadamkan gejolak Api yang menghanguskan jiwa

Engkaulah Suara dalam Kegelapan,

Yang meniupkan Kabar Gembira bagai Angin yang membawa musim..

Dan malam pun berakhir, surya kembali bersinar, 

jiwa ini kembali berbinar

Saatnya melangkah injakkan Tanah

Tanah-Air ku nan jaya

Bahtera bangsa berlayar menuju Mata-Angin bahagia

Dan Api Semangat itu memperdengarkan Suara: Indonesia !

post

Menanti 2019: Pertarungan Ideologi Borjuis VS Nasionalis

Euforia kemenangan Anies-Sandi pada Pilgub DKI 2017 hanyalah sebuah titik awal konsolidasi kekuatan para borjuis. Bukan Prabowo tokoh sentralnya , melainkan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Prabowo adalah seorang Nasionalis, yang kebetulan saja sedang dimanfaatkan oleh kekuatan borjuasi di belakang Anies-Sandi. Jaringan borjuasi yang patut diwaspadai ialah jaringan PKS, Hari Tanoe, Amien Rais, dan Jusuf Kalla. Ahok adalah simbol kekuatan nasionalis yang harus dilenyapkan, satu-satunya cara untuk melenyapkam Ahok adalah dengan isu “agama”. Agama dengan tanda kutip. Agama yang dipakai untuk kekerasan verbal dan psikologis. Jangan harap agama akan mencerminkan wajah kasih dan kepedulian kepada umat, yang akan dipertontonkan adalah wajah agama yang kasar, keras, dan angkara murka, memprovokasi umat untuk membenci saudaranya sendiri. Penolakan solat jenazah bagi pendukung Ahok adalah salah satu model “agama” yang akan diterapkan untuk mengkeroposkan kekuatan nasionalis yang digawangi Ahok, Jokowi, dan Prabowo. Prabowo kini belum sadar sepenuhnya bahwa Anies bukanlah tipikal karakter yang setia pada prinsip apalagi jabatan. Bukan mustahil bila 2019 nanti Prabowo akan dibuat kecewa dengan manuver Anies, yang kemungkinan besar akan dipersiapkan menjadi Calon Wakil Presiden oleh Jusuf Kalla. Tentu, Jusuf Kalla akan semakin percaya diri dengan embel-embel pengalaman sebagai “tokoh Islam” maka beliau akan dengan mudahnya mengkonsolidasi aksi-aksi bela Islam lagi untuk meraup suara mengalahkan lawannya nanti. Lalu bagaimana dengan kans Prabowo? Apakah ia bersedia untuk menjadi Wapresnya Jokowi demi mengamankan Indonesia dari jaringan borjuasi?

Prabowo adalah sosok yang cair, mudah bergaul dengan siapa saja, namun disitulah celah yang sering dimanfaatkan kekuatan borjuasi demi meraih kekuasaan. Belum jera dengan bubarnya Koalisi Merah Putih (KMP), ia dengan yakinnya bersekutu lagi dengan Amien Rais/PAN, yang sering memainkan politik dua kaki, guna memenangkan Anies. Tinggal PKS yang belum berkhianat dengan Prabowo. Namun dengan kader “non-formal” nya kini memenangi pilgub, yakni Anies, bukan tidak mungkin Anies akan didorong menjadi Calon Wakil Presiden oleh PKS karena Anies terbukti ampuh menjadi alat untuk mendongkrak suara umat Islam yang mudah diprovokasi. Apalagi bila Anies dipasangkan dengan Calon Presiden Jusuf Kalla, maka akan sangat kuat aroma politik “SARA” seperti di Pilgub kemarin. Tujuan utamanya bukanlah menegakkan agama, melainkam: kekuasaan dan akses sumber daya, seperti dahulu di kabinet SBY, PKS akan meraup jatah menteri dan proyek-proyek.

Kini bola kick-off ada di tangan Jokowi, Megawati, Prabowo, dan SBY untuk menatap Pilpres 2019 dengan visi menangkal kekuatan borjuasi kembali berkuasa. Senjata “agama” kemungkinan besar akan dipakai lagi. Tak peduli lawannya sesama muslim, jaringan borjuasi JK, PKS, PAN, Perindo akan punya banyak cara menjatuhkan lawan dengan isu SARA. Masih ingat ketika Jokowi difitnah beragama Kristen dan keturunan PKI pada Pilgub DKI 2012 dan Capres 2014? Itulah model kampanye yang akan diterapkan kembali untuk melawan Jokowi pada 2019, siapapun pasangannya nanti. Keterlibatan JK dalam mendukung Anies menjadi gubernur adalah fakta yang terbantahkan bahwa JK berperan dibalik para borjuasi berkedok agama demi ambisinya nanti bersaing dengan Jokowi pada 2019 . Lalu dimana posisi SBY? Apakah ia akan mencalonkan trah Cikeas? Atau menurunkan gengsinya dengan berkoalisi dengan Jokowi atau Prabowo? Lalu apakah Prabowo siap dikecewakan lagi dengan sekutu terdekatnya, yakni PKS? 

Di sisi lain, SBY hampir pasti akan mengusung anaknya Agus untuk 2019, atau minimal dijadikan ketua umum demokrat untuk mendongkrak suara pemilih muda. Posisi SBY masih abu-abu, seperti biasa Netral. Sedangkan Prabowo, apabila ia akan dikhianati lagi dengan sekutunya, yakni Anies-PKS, kans ia menjadi Capres akan semakin kecil. Kekuatan borjuasi akan lebih condong kepada pasangan JK-Anies karena dianggap merepresentasikan “kebangkitan umat Islam”. Satu-satunya jalan yang harus diambil Prabowo adalah dengan menjadi Cawapresnya Jokowi. Prabowo harus bisa ikhlas melupakan persaingan masa lalunya dengan Jokowi. Prabowo harus sadar betul kawan sejatinya ialah Jokowi, yang menggelora jiwa nasionalis-keadilan sosialnya. Namun meskipun mereka berdua beragama Islam, akan sangat mungkin mereka akan diserang lawannya kelak bahwa “keIslaman mereka dianggap kurang” daripada JK-Anies yang terlanjur melekat ketokohohan Islamnya. Kemana Ahok? Ahok kemungkinan besar tidak akan laku pada 2019 kelak karena kekuatan borjuasi yang berkedok agama terlanjur sudah mengurungnya dengan status “penista agama”, “kafir”, “PKI”, apalagi mereka sudah berkonsolidasi dengan kekuatan media Hari Tanoe yang siap menjadi mesin provokasi masyarakat lagi apabila Ahok mencalonkan Wapres pada 2019. Porsi untuk Ahok yang pas adalah sebagai Mendagri yang mengawasi para Gubernur pada 2019 nanti.

Penantian 2019 adalah sebuah penantian perang besar antara ideologi Nasionalis yang dekat dengan semangat perjuangan para leluhur bangsa, melawan ideologi borjuasi yang hendak melanggengkan praktik politik kolonial. Seperti yang dituliskan oleh Ahok dalam bukunya “Merubah Indonesia”, kekuatan politik kolonial itu tidak ragu-ragu untuk menggunakan isu SARA untuk mencapai kekuasaan. Dan Pilpres 2019 adalah pertaruhannya.

Dunia dan Kuasa

Orang-orang di pusat kota mengejar dunia.

Dunianya masing-masing, seperti knalpot yang bising.

Hembus angin keinginan berderu kencang.

Tak ada ampun bagi pengejaran kebendaan.

Main serang dan sikut-sikutan adalah halal.

Padahal, tiada ajaran suci manapun yang menghendaki.

Yang penting, berkuasa.

Kuasa yang meniadakan segala amal puasa.

Namun, tetap saja mereka bangga karena berjubah agama.

Tapi, sayangnya, hatinya beku seperti es yang membatu.

Pikirannya panas bak api yang menyala-nyala.

Segelintir kisah perkotaan, tak dapat ditahan.

Ketika dendam meraja, punah segala hati yang berderma.

Dunia dan kuasa memperdayainya.

Hingga masa itu tiba, tak dapat ditolaknya.

Gugurlah sudah semua yang dibanggakannya.

Tinggalah nama, tulang berserak menyatu tanah 

Anak manusia lupa jalan pulang. 

Dunianya, kuasanya, semuanya hilang.

Hanya satu bekas merah yang tertinggal: angkara.

Dan angkara itu membakar dirinya sebatang kara.