Featured

Pada mulanya kudengar Suara: Indonesia!

Rona senja menghantarkan jiwa ke sebuah perhentian.

Ketika wajah didera lelah seharian bermandikan cahaya.

Ketika mata tak sanggup lagi menatap surya sang dunia

Saat senja, di kala itu, pada mulanya kudengar Suara.

Dan di saat itu pula dimulailah Kehidupan.

Dari manakah Suara itu berasal?

Di ujung senja terdapat Kegelapan.

Inikah ruang Kematian?

Gelap, ketika mata terpejam?

Pertama kali kudengar Suara itu..

Ya, pada saat lonceng senja berbunyi..

Kemudian datanglah selimut Kegelapan..

Seakan jiwa menghampiri Kematian..

Namun ternyata yang kutemukan Kehidupan.

Terima kasih Kegelapan, engkau yang memberiku cahaya..

Cahaya Kehidupan, yang memperdengarkan Suara Kebenaran.

Walau surya sang dunia menerangi jiwaku seharian,

namun dalam Kegelapan kutemukan Penerang Yang Abadi.

Ketika tubuhku terbaring, mata terpejam, setiap malam..

Engkaulah Suara yang selalu kunanti,

penunjuk jalan para Jiwa Yang Mencari

Ketika mata dan kehendak tak habisnya meletupkan ambisi

Engkaulah Suara yang menenangkan,

bagai Air yang memadamkan gejolak Api yang menghanguskan jiwa

Engkaulah Suara dalam Kegelapan,

Yang meniupkan Kabar Gembira bagai Angin yang membawa musim..

Dan malam pun berakhir, surya kembali bersinar, 

jiwa ini kembali berbinar

Saatnya melangkah injakkan Tanah

Tanah-Air ku nan jaya

Bahtera bangsa berlayar menuju Mata-Angin bahagia

Dan Api Semangat itu memperdengarkan Suara: Indonesia !

post

Nasib minoritas

Muslim di Amerika senasib dengan Kristen di Indonesia yang sering mendapat ancaman bom di tempat ibadahnya. Stereotipe minoritas harus segera berakhir karena kita semua sesungguhnya sama, tidak ada yang lebih maupun kurang, kita semua apa adanya sempurna dari Sang Pencipta.

Minnesota governor calls mosque bombing ‘act of terrorism’

https://www.usatoday.com/story/news/nation-now/2017/08/06/minnesota-mosque-bombing-reaction/543794001/


News Suite bit.ly/newssuiteapp

Paras SuciĀ 

Asap itu tlah mengepul,

Tanda orang-orang berkumpul

Berhias suci selimuti paras

Asal berkata, tiada waras

Peluru caci menghujam nurani

Akal sehat seakan tiada lagi

Dan asap semakin membumbung tinggi

Dipercik api yang kian menyulut

Kota hangus diberangus kalut

Negara goncang bak diterpa gelombang laut

Paras suci, namun hati penuh benci

Mengobral surga atas nama kefanaan

Aku tahu kau haus kekuasaan

Hingga Yang Maha Kuasa kau pinjam sebagai perisai

Untuk menutupi nafsumu ingin dipuja puji

Sudahilah segera, hari pembalasan itu tlah datang

Kau takkan bisa lari, hanya bisa memandang

Kesombonganmu takkan lagi bisa menari

Hanya sesal kau rasa yang tak terperi

Jikalau memang ia baik, janganlah kau usik 

Terimalah bahwa kau tak lagi dapat mengacaukan dunia

Tempat dimana kau memupuk kefanaan

Karena dunia sedang dibenahi

Kau tak bisa mengganggunya lagi

Menyerahlah tuan, tanggalkan paras sucimu

Akuilah engkau hanya hamba Tuhan

Karena masa penghabisan tlah hadir

Kau dan aku harus terima takdir

Terimalah Dia Yang Tunggal Sebagai Hakim
Sudahilah menutupi kepentingan sempitmu

Karena Dia Maha Tahu.

Antara Iman dan Keinginan

Ketika iman dijual murah

Ketika kata sudah tak lagi bertuah

Akankah Tuhan menyesal?

Tlah mempercayai penipu sepertimu

Ataukah manusia yang akan menyesal?

Karena iman terlanjur diobral

Oleh nafsu dan keinginan

Akhirnya sia-sia dan tak bersisa

Label iman tiada guna

Kesombongan yang meraja

Menutupi jalan bahagia

Bila cahaya tlah menjauh

Tiada lagi jalan untuk ditempuh

Kemakah tujuan hidup?

Ketika kematian pun tak menenangkanmu

Hanya ada tangis berkabung yang tak berujung

Tak ada lagi celah untuk menawar

Karena kesempatan tlah habis

Pahitnya rasa kian abadi

Karena iman dibuat judi

Kesenangan pun tlah lenyap

Ketika sadar kau sendiri dalam senyap

Selamat tinggal iman, 

Aku menyesal kau tlah pergi

Karena perbuatanku sendiri

Tuhan Maha Kasih dan Sayang

Tapi perbuatanmu sungguh disayangkan

Karena tak mampu melihat kasih yang lebih besar

Tertutup raksasa keinginan gilamu,

Yang kian hari kian membelenggu.

Sekarang tinggallah pilih Iman atau Keinginan yang kau tuju.

Balada Pencari Nama

Ini bukan cerita sendu. Apalagi mendayu-dayu membuat ngantuk. Bukan romansa penuh haru. Bukan kisah heroik bela ini-itu. Inilah sebuah hikmah yang dapat dipetik, yaitu sebuah “balada pencari nama”. Lho, siapa yang mencari nama? Inilah alkisah politik tingkat tinggi negeri ini..

Satu hal yang perlu diingat untuk pengantar balada ini ialah bahwa “tidak ada satupun lembaga negara di republik ini yang benar-benar bersih dari Oknum”.  Lalu, barulah kita menengok keluar atas apa yang terjadi. Pemerintah, DPR, dan KPK hendak saling bentur-membenturkan, kasus-mengkasuskan, demi mempertahankan citra masing-masing. Stop sampai disini, kita soroti kata “Citra”. Ya, Pencitraan. Hal yang sangat dekat dengan pencitraan adalah media. Pertanyaannya, masihkah pencitraan menjadi panglima di atas etika jurnalistik? Atas nama pencitraan, pemerintah, DPR, dan KPK bisa saja memesan berita atas kehendak kepentingan masing-masing lembaga. Segalanya bisa menjadi berita. Namun ketika bicara etika jurnalistik, pencitraan akan memudar dan yang timbul akhirnya hanya fakta. Tidak akan terjadi kehebohan emosi, yang ada hanyalah fact checking antarlembaga negara. Tidak ada lagi pretensi saling sudut-menyudutkan, lemah-melemahkan, karena spirit yang ada “mencari kebenaran” bukan “mempertahankan citra”.  Namun memang tidak mudah menegakkan salah satu pilar demokrasi kita ,yakni Media, agar pandai dalam menjaga jarak dengan ketiga lembaga negara tersebut

Selanjutnya yang perlu dipertanyakan adalah, siapa yang harusnya mengontrol citra dan media di republik ini? Harusnya ya rakyat, masyarakat madani Indonesia, yang berpendidikan, yang mengedepankan fact checking daripada “breaking news”. Namun tak jarang rakyat sudah terbiasa termakan oleh segala pencitraan yang ada karena cenderung “mau gampangnya saja” dalam menerima informasi. Tak mau cari tahu sendiri, maunya dicekoki berita. Walhasil tidak ada prinsip “praduga tak bersalah” yang dipegang lagi dalam melihat suatu fenomena, tidak ada lagi sikap teliti (kroscek) fakta antarlembaga, yang ada hanya sikap “lugu”, spontanitas, dan keberpihakan yang terlalu naif terhadap salah satu lembaga saja. Dan yang sudah ketebak adalah, esok harinya langsung “demonstrasi”.

Dengan demikian, kisah balada pencari nama akan terus berlanjut entah sampai episode kapan jika “keluguan”, keberpihakan yang naif ini terus dipertahankan oleh masyarakat (yang katanya) madani kita. Oknum-oknum akan semakin mempertahankan diri berlindung di balik media, di balik citra yang dibangun, saling perang citra, mengorbankan cita-cita perjuangan negara untuk menegakkan kebenaran. Kita akan terus menerus dipertontonkan balada para pencari nama yang mengakukan diri, merasa benar sendiri, dan  media hanya menjadi penonton yang pasif. Harusnya, media berperan aktif dalam memberantas oknum-oknum yang ingin memanfaatkan jaringan beritanya. Sebab, menyuarakan kabar kebenaran selalu lebih mahal harganya daripada sekedar mencetak berita yang hanya menguntungkan sesaat.

Sekian balada pencari nama. Tetap waspada. 

Jalan & Langkah

Betapa besar jalan di depan.

Inginku melompat jauh tanpa melangkah

Namun itu hanyalah fatamorgana.

Kuharus melangkah sedikit demi sedikit

Agar kubisa sampai ke tujuan itu.

Hidup tak mudah ditebak, namun satu hal yang pasti

Tak ada yang abadi..

Di luar berkeliaran muda mudi

Mencari cinta sejati.

Sampai kapankah mencari yang tak abadi?

Yakinkah engkau dengan yang sejati?

Sampai-sampai kita rela tersakiti,

Jiwa yang merintih karena semua ilusi

Namun ketika ku lihat lebih dalam

Ke dalam samudra hatiku sendiri

Ku tak perlu lagi mencari,

Namun kumulai selami yang sejati

Resahku hilang bak tersapu guyuran hujan

Tak berapa lama engkau datang

Menghampiri.. menunjuk pada suatu yang terang

Itulah Jalan.. Langkah yang harus kutempuh

Meninggalkan segala yang pernah kucari

Memulai penemuan terhadap sesuatu yang pasti.

Hidup menghitung mundur mati.

Kaulah penawar sejati, yang mencabut akar penyesalan

Membawa jalan penyelesaian

Menghitung langkah ke keabadian..

Salam Semesta Alam.