Balada Pencari Nama

Ini bukan cerita sendu. Apalagi mendayu-dayu membuat ngantuk. Bukan romansa penuh haru. Bukan kisah heroik bela ini-itu. Inilah sebuah hikmah yang dapat dipetik, yaitu sebuah “balada pencari nama”. Lho, siapa yang mencari nama? Inilah alkisah politik tingkat tinggi negeri ini..

Satu hal yang perlu diingat untuk pengantar balada ini ialah bahwa “tidak ada satupun lembaga negara di republik ini yang benar-benar bersih dari Oknum”.  Lalu, barulah kita menengok keluar atas apa yang terjadi. Pemerintah, DPR, dan KPK hendak saling bentur-membenturkan, kasus-mengkasuskan, demi mempertahankan citra masing-masing. Stop sampai disini, kita soroti kata “Citra”. Ya, Pencitraan. Hal yang sangat dekat dengan pencitraan adalah media. Pertanyaannya, masihkah pencitraan menjadi panglima di atas etika jurnalistik? Atas nama pencitraan, pemerintah, DPR, dan KPK bisa saja memesan berita atas kehendak kepentingan masing-masing lembaga. Segalanya bisa menjadi berita. Namun ketika bicara etika jurnalistik, pencitraan akan memudar dan yang timbul akhirnya hanya fakta. Tidak akan terjadi kehebohan emosi, yang ada hanyalah fact checking antarlembaga negara. Tidak ada lagi pretensi saling sudut-menyudutkan, lemah-melemahkan, karena spirit yang ada “mencari kebenaran” bukan “mempertahankan citra”.  Namun memang tidak mudah menegakkan salah satu pilar demokrasi kita ,yakni Media, agar pandai dalam menjaga jarak dengan ketiga lembaga negara tersebut

Selanjutnya yang perlu dipertanyakan adalah, siapa yang harusnya mengontrol citra dan media di republik ini? Harusnya ya rakyat, masyarakat madani Indonesia, yang berpendidikan, yang mengedepankan fact checking daripada “breaking news”. Namun tak jarang rakyat sudah terbiasa termakan oleh segala pencitraan yang ada karena cenderung “mau gampangnya saja” dalam menerima informasi. Tak mau cari tahu sendiri, maunya dicekoki berita. Walhasil tidak ada prinsip “praduga tak bersalah” yang dipegang lagi dalam melihat suatu fenomena, tidak ada lagi sikap teliti (kroscek) fakta antarlembaga, yang ada hanya sikap “lugu”, spontanitas, dan keberpihakan yang terlalu naif terhadap salah satu lembaga saja. Dan yang sudah ketebak adalah, esok harinya langsung “demonstrasi”.

Dengan demikian, kisah balada pencari nama akan terus berlanjut entah sampai episode kapan jika “keluguan”, keberpihakan yang naif ini terus dipertahankan oleh masyarakat (yang katanya) madani kita. Oknum-oknum akan semakin mempertahankan diri berlindung di balik media, di balik citra yang dibangun, saling perang citra, mengorbankan cita-cita perjuangan negara untuk menegakkan kebenaran. Kita akan terus menerus dipertontonkan balada para pencari nama yang mengakukan diri, merasa benar sendiri, dan  media hanya menjadi penonton yang pasif. Harusnya, media berperan aktif dalam memberantas oknum-oknum yang ingin memanfaatkan jaringan beritanya. Sebab, menyuarakan kabar kebenaran selalu lebih mahal harganya daripada sekedar mencetak berita yang hanya menguntungkan sesaat.

Sekian balada pencari nama. Tetap waspada. 

Advertisements

Author: permanauthority

Aku adalah engkau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s